Monday, 29 February 2016

Meningkatkan Fungsi Otak Belahan Kanan

Loading...
Otak manusia  adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf di dalamnya dipercayai dapat memengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.
fungsi otak kiri dan kanan
belahan otak kiri dan kanan

Empat masalah yang sering dihadapi :

1). Masyarakat dan sistem pendidikan terlalu menekankan aktivitas mental belahan otak kiri.

Masyarakat umumnya  lebih   mementingkan  analisis,  logika, matematika  dan  jarang sekali memperhatikan  atau  kurang  mengoptimalkan  fungsi belahan otak  kanan dalam pembelajaran  (Khoo, Adam 1999).   Pada   kenyataannya   memang   sejak   awal pendidikan  tidak lebih  dari 10 %  mata  pelajaran yang memakai fungsi belahan otak kanan, seperti  kesenian  dan  musik.  Bagaimana   cara    mendayagunakan belahan otak  kanan  atau memaksimalkan fungsi belahan otak kanan untuk pembelajaran?

2 ). Materi pengajaran dan pembelajaran yang kurang menarik.

      Mahasiswa    sudah    memiliki    pengalaman   belajar    paling  sedikit  12  tahun. Sayangnya  pengalaman  belajar mereka tidak selalu  menyenangkan dan menarik (Malouf   Doug,  2000).    Banyak    yang   mengeluh   materinya   membosankan, kering,     dan      pembelajaran     hanya     di   belakang    meja,    sangat   formal. Bagaimana merancang   materi   pengajaran   yang   menarik?   Ini berkaitan dengan  pendekatan  atau  strategi  pembelajaran.

 3 ). Hambatan mencapai target belajar bahasa, bahasa ekspresif.

          Winitz (1981,1982), Nord (1981) dan Krashen (1978) dalam Asher (1996) mengatakan bahwa “production cannot be taught”. “Production can be shaped perhaps, but not directly taught”.  Pengalaman membuktikan bahwa terlalu dini mengharapkan mahasiswa untuk berbicara, bisa membuat mereka stress dan selanjutnya menghambat aspek komunikatif para pembelajar. Bagaimana pendekatan yang lebih baik untuk mencapai kemampuan berkomunikasi ? 

4 ). Langkanya bahan ajar untuk penutur asing.

   Beberapa    bahan    ajar   bisa   didapatkan  di  Singapura   namun   penulis   ingin memperkayanya,    juga     dengan    mengajarkan     budaya     melalui     bahasa. Mengajarkan  budaya   Indonesia   pada  penutur  asing  sama  pentingnya  dengan mengajarkan bahasa   Indonesia   itu   sendiri.   Bagaimana  pembelajaran  yang kreatif  dan bervariasi ?

TUJUAN

Berdasarkan 4 masalah di atas, Erlin Barnard, Fanny Loe, Lucia Lawu dan penulis merancang paket materi pengajaran dengan pendekatan yang bervariasi untuk mencapai tujuan akhir (target bahasa) yang sama. Sebelum mahasiswa diharapkan berbicara, mahasiswa diberi berbagai masukan untuk mencapai pemahaman bahasa. Masukan dan respons mahasiswa dibuat sedemikian rupa agar kedua belahan otak kiri dan kanan berfungsi optimal, bisa dalam bentuk permainan, peragaan, menggambar, menyanyi , drama, bercerita dan berimajinasi.

Paket pengajaran ini merupakan bahan ajar yang dikembangkan dari materi pengajaran “oral proficiency” ciptaan Erlin Barnard dan Luciawati Suharni.

Bahan ajar ini diujicobakan pada mahasiswa National University of Singapore semester satu dan dua. Pembelajar dibagi dalam dua kelompok, yang satu diberi bahan ajar ketrampilan oral, dan kelompok kedua diberi bahan ajar “baru”.

 

KAJIAN TEORI

BELAHAN OTAK KIRI DAN KANAN.

Setiap belahan otak (kiri atau kanan) mempunyai fungsi yang berbeda. Belahan otak kiri berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian (sequence) dan matematika. Jadi belahan otak kiri berespons terhadap masukan-masukan di mana dibutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declaring), menganalisa, menjelaskan, berdiskusi dan memutuskan (judging).  Belahan otak kanan berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Jadi belahan otak kanan berfungsi kalau manusia menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya.  Sebenarnya kedua belahan otak kiri dan kanan sama penting dan sama kuatnya. Mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

Kalau sampai saat ini pembelajar lebih banyak menggunakan belahan otak kiri, apa yang terjadi kalau sekarang mereka memakai kedua belahan itu sekaligus ? Tentunya secara teoritis pembelajar akan memiliki kekuatan otak yang ganda, karena memakai semua kapasitas otak yang dimilikinya. Bahan ajar  yang diciptakan ini  memakai strategi mengoptimalkan seluruh kapasitas otak pembelajar.


PEMBELAJARAN YANG MENARIK.

Pembelajar khususnya orang dewasa biasanya takut untuk berbuat kesalahan. Sudah tentu semua proses belajar ada kemungkinan gagal atau membuat kesalahan. Tapi sebagai pengajar kita bisa membuat resiko ini seminimal mungkin. Hal ini agak sulit dicapai kalau pembelajar diminta untuk berbicara dalam bahasa target. Di lain pihak ada pendapat bahwa orang akan belajar secara optimal kalau dia ikut berpartisipasi (Malouf, Doug 2000). Tugas pengajar untuk memikirkan aktivitas apa yang paling optimal, menarik, dinamis dan relatif lebih kecil resikonya.

Malouf (2000) mengajukan format bahan ajar untuk pembelajar dewasa :


     1. Tahap pemberian informasi.

         Sebelum   diberi   dialog,  pengajar  mempersiapkan   kerangka  berpikir pembelajar dengan    memberikan    latar    belakang    situasi   atau    mengajukan   pertanyaan-pertanyaan   pra-dialog.  Hal  ini  bisa  dihubungkan  dengan budaya atau kebiasaan masyarakat Indonesia.


         Asher  (1966)  mengatakan : “pembelajaran melalui   pancaindera    penglihatan lebih efisien dan bertahan  lebih  lama  dalam   ingatan  dibandingkan  dengan pendengaran”. Dengan  pertimbangan di atas,  penulis  mengombinasi   pemberian  dialog   melalui   audio   dengan  benda-benda  konkrit,  gambar,  gerakan  fisik  dan ekspresi emosi.

     2. Tahap peragaan.
         Asher (1966)  percaya    bahwa  kondisi    yang     optimal    untuk    belajar   adalah bagaimana     pembelajar     pertama-tama    diperkenalkan    dengan    bahan     ajar.  Menurutnya,  ketrampilan   menebak  sangat  penting   dalam  belajar dan  erat Kaitannya   dengan  lamanya   bertahan   dalam   ingatan. Implikasinya,  jangan  berikan  terjemahan    atau    arti    langsung     kepada    pembelajar,   tapi    biarkan  mereka memprosesnya secara mendalam dan menebaknya  melalui  konteks.
       
         Selain itu Asher mengemukakan :  “Semakin   tepat  pembelajar   menebak   arti kata,  semakin   cepat   dia   belajar   kosa  kata  baru, menyerapnya,  mengerti kalimat  atau  konteksnya  dan  bertahan  lebih lama dalam  ingatan”.  Artinya, jangan    biarkan    pembelajar    menerka-nerka    sendiri,   tetapi   pengajar    harus memperkecil   kesalahan   menebak dengan memberikan gerakan, ekspresi dan cara konkrit  lainnya yang  memudahkan pemahaman kosa kata baru.  
        

     3. Tahap pelaksanaan.

Sesudah   pemahaman   terjadi,  pembelajar   diharapkan   bisa  memproduksi secara terbatas  melalui  aktivitas yang  sederhana. Sesudah  itu  bisa   mengaplikasikannya situasi yang lebih majemuk.
   

BAHASA RESEPTIF DAN EKSPRESIF

Dalam setiap kebudayaan sepanjang sejarah manusia, anak-anak berbicara dalam “bahasa ibu” setelah lebih dari setahun ibu atau orang2 di sekitarnya berkomunikasi dengan anak itu. Seseorang harus mencapai tahap pemahaman lebih dulu sebelum dia mulai berbicara. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemahaman adalah kondisi yang diperlukan sebelum perkataan muncul. Dan pemahaman ini bisa dipercepat melalui pemberian instruksi. Pendekatan ini dipakai oleh Asher untuk mengajarkan bahasa melalui “learning another language through actions”.

Usaha yang optimal dilakukan dengan cara yang menarik perhatian pembelajar untuk menangkap makna pesannya. Hal ini berguna untuk menguatkan pengertian bahasa dalam waktu singkat karena pengajaran dilakukan terkonsentrasi, bervariasi, menarik dan direncanakan secara khusus. Alat2 peragapun hendaknya bertahap, mulai dari benda2 konkrit, gambar2 sampai akhirnya ke kata2 yang tertulis.  Kalau pemahaman ini sudah benar2 meresap, maka bahasa ekspresif akan muncul secara spontan (Asher, James, 1996).

Masa pubertas adalah masa kritis yang menentukan apakah seseorang akan mencapai kemampuan berkomunikasi yang hampir sama dengan penutur asli atau tidak. Dalam belajar bahasa ada pendapat, kalau pengajar sejak awal membiarkan kesalahan2 dalam produksi (bahasa ekspresif), maka pembelajar akan terus menerapkan “kebiasaan buruk” ini, dan akhirnya kesalahan makin sulit untuk diperbaiki.

Di lain pihak Asher and Garcia (1969, 1982, 1986) dalam penelitiannya pada imigran Cuba di San Francisco Bay menemukan bahwa sangat jarang pendatang yang tiba setelah masa pubertas bisa berkomunikasi mendekati penutur asli. Tetapi pendatang ini mampu mencapai kemampuan menyimak atau pemahaman bahasa seperti penutur asli. Inilah yang mendasari penciptaan bahan ajar dengan pendekatan yang lebih mengutamakan kemampuan menyimak dan pemahaman bahasa sebagai dasar yang kuat sebelum mengharapkan tercapainya bahasa ekspresif.
 

MENGAJARKAN BUDAYA INDONESIA PADA PENUTUR ASING


Melalui dialog mahasiswa diperkenalkan pada autentisitas aspek budaya yang melatar belakangi konteks dialog atau bahasa itu sendiri. Hal ini bisa ditunjukkan melalui peragaan, terutama kalau pengajar mau menunjukkan pentingnya keramahtamahan untuk suksesnya berkomunikasi. Sebelum dialog diperdengarkan, bisa dilakukan tanya jawab pradialog untuk memudahkan pembelajar masuk dalam konteks budaya yang melatarbelakangi dialog. Hal ini perlu ditumbuhkan dalam pikiran pembelajar sebelum mereka mulai mendengar dialog. Pemahaman tentang isi dialog bisa dipermudah dengan bantuan gerakan. Ini akan meningkatkan semangat pembelajar, karena bukan hanya pembelajar saja tapi juga pengajar turut berpartisipasi sehingga proses belajar menjadi lebih dinamis, terbuka, dan interaktif.

 


HASIL PENELITIAN

Umpan balik mahasiswa.

Beberapa cuplikan respons mahasiswa :
  1. Pembelajaran   berlangsung   melalui   aktivitas yang padat dan bervariasi di mana
      dibutuhkan kesigapan seluruh  pancaindera, namun pembelajar merasa senang dan
      menikmatinya.
  1. Banyak interaksi yang membuat pembelajaran menarik, walaupun kadang-kadang
aktivitasnya dirasa lebih  cocok  untuk  anak-anak. Tetapi  ini yang membuat pembelajar tidak tegang dan bisa tertawa lepas.
  1. Aktivitasnya menggairahkan dan menantang sehingga meningkatkan motivasi belajar.
  2. Suasana belajar sangat hidup sehingga  pembelajar tidak sabar menunggu kelas berikutnya.
  3. Meningkatkan rasa ingin tahu karena harus menebak sendiri dan melalui peragaan sangat membantu tercapainya proses pemahaman.
  4. Pembelajaran ini bervariasi dan menyegarkan, tidak sebagaimana kuliah dan kelas tutorial lainnya. 
  5. Semakin lama semakin mencintai pelajaran bahasa Indonesia.
      
Hasil-hasil lainnya sedang dalam proses.

 

 

PENUTUP


  1. Tidak ada satu pendekatan yang  paling  efisien  untuk  setiap pembelajar.  Namun untuk   meningkatkan   dan   mempertahankan   motivasi  pembelajar,  juga  untuk mencapai     pemahaman     yang     optimal,    sebagai    dasar   yang   kuat   untuk mencapai bahasa ekspresif, pendekatan ini sangat efektif.
  2. Untuk pembelajar  tingkat  dasar dan menengah, pendekatan ini sangat disarankan karena  telah terbukti bisa  memberikan suasana belajar yang menyenangkan.
  3. Bahan ajar dengan  pendekatan  ini dirancang untuk digunakan bersamaan dengan bahan ajar pendekatan “oral proficiency” dan  website  yang  sedang dalam proses untuk pembelajar belajar secara mandiri.


CONTOH MATERI PENGAJARAN



PELAJARAN   9D

Dalam pelajaran ini akan dipelajari :

I.              Statement for doing two things at the same time : “………sambil..………”
II.            Expressing that something still needs to be done : “……masih harus……”
III.           Expressing possibility : “Barangkali ada ……………yang…… ………..”
IV.          Responding to kind offer : “Tidak usah…………….,biar.………….……”


KEGIATAN PENGANTAR

A.   Pra-aktivitas
Bagaimana tradisi di sini kalau orang pindah rumah ?
Di Indonesia, kalau orang baru pindah rumah biasanya ……..
Susi datang ke rumah bu Ida yang baru pindah rumah.
Kira-kira percakapan apa yang terjadi antara Susi dengan bu Ida ?


B.   Siapkan
1.    Gambar rumah, gambar perabot.
2.    Jam dinding.


                  C.   Mendengarkan seluruh dialog.


P E R A B O T

Susi kembali dari mengantar makanan ke rumah Bu Bandi.

              Ibu Ida : …………………………………………………………………
              Susi     : …………………………………………………………………
dst.


I.              …………………….SAMBIL…………………….


A.    Pra-aktivitas
Susi menolong mengantarkan nasi  kuning  dan  lauk  pauknya  ke  rumah tetangga  bu  Ida,  bu  Bandi.  Dia  sedang  apa waktu Susi ke rumahnya ?


B.    Siapkan
1.    Majalah
2.    Gambar orang di terminal bis untuk latihan 1.
3.    Kaset rekaman dan  satu set gambar untuk latihan 2 dan 3.
4.    Gambar untuk latihan 4.


C.    Mendengarkan rekaman bagian 1


D.    Latihan
1.    Mendengar dan memperhatikan.
Pengajar memeragakan / menunjukkan 2 hal sekaligus.
Saya berjalan sambil melihat majalah.
Saya menelepon sambil membuat kue.
Orang ini membaca surat kabar sambil menunggu bis.
2.    Mendengarkan narasi sambil memasangkan gambar.  
Teks narasi : PAK TOMO DAN KELUARGANYA.

3.    Membuat    kombinasi   lain   dengan  gambar-gambar  yang sama. Pembelajar bisa mulai membuat kalimat sederhana.

4.    Membuat satu paragraf pendek.
Pembelajar diberi gambar dan disuruh membuat paragraf pendek.


II.            …………….MASIH HARUS ………………….


A.    Pra-aktivitas.
Rumah bu Ida besar, ya (tunjukkan gambar interior rumah yang besar  dan
kosong). Jadi dia  perlu banyak perabot untuk rumahnya. Barang  apa saja
yang masih harus dibeli ?


B.    Siapkan
               1.    Gambar rumah, jam dinding, perabot
                                 2.    Gambar untuk latihan 3


C.   Mendengarkan rekaman bagian 2


D.   Latihan
1.    Mendengar dan memperhatikan.
Sambil memeragakan pengajar bertanya :
“Barang-barang  apa  saja  yang  masih harus dibeli / ditambah  di ruang ini ?” ----- kursi, meja.
Kursi masih harus dibeli. Meja masih harus dibeli / ditambah.
“Barang-barang apa  saja  yang  masih harus dipindah / dibuang
                                       dari ruang ini ?” ----- komputer, poster.
                                       Komputer masih harus dipindah. Poster masih harus dibuang.

2.    Mendengar instruksi dan mahasiswa memeragakan.
Kursi masih harus dipindah dari ruang tamu ke ruang makan.
Meja masih harus diambil dari rumah lama.
Lampu masih harus dibeli di toko.
Lukisan masih harus dipasang di dinding.
Komputer masih harus dipindah dari ruang tamu ke kamar.

3.    Bermain peran.
      Lihat gambar – Barang-barang  ini  masih  harus  Anda  apakan ?

Situasi : Anda   baru   pindah   rumah,  barang-barangnya   masih
              berantakan. 
Pakai kata kerja : antar, bayar, telepon, kembalikan, kirim, ambil.
                                               Pakailah pola : “………….masih harus……………”


III.           BARANGKALI ADA …………………….YANG…………..


A.    Pra-aktivitas
Bu Ida mau membeli jam dinding. Di mana dia bisa mendapatkannya ?
                         Bagaimana kira-kira respon Susi ?


B.    Siapkan.
1.    Gambar iklan handphone.
2.    Kaset rekaman dan kertas untuk menggambar (latihan 2).
3.    Set gambar untuk latihan 3.


C.    Mendengarkan rekaman bagian 3.


D.    Latihan
1.    Mendengar dan memperhatikan
Sambil menunjuk pada iklan handphone pengajar berkata :
Teman saya mau membeli handphone dengan nomer khusus.
Barangkali ada nomer yang dicari teman saya di toko ini.
      Saya dengar ada model handphone yang terbaru.
      Barangkali ada model terbaru yang dijual di toko ini.

2.    Mendengar  rekaman  percakapan  bapak  dan  ibu  Ali  dan mahasiswa menggambar.
Judul : PANTAI PANGANDARAN.

3.    Membuat dialog singkat untuk setiap gambar.
Dalam dialog harus ada pola :”Barangkali ada…….yang……”


IV.          TIDAK USAH ………………BIAR…………………..


A.    Pra-aktivitas
Waktu  Ratih  mau  mengantarkan jam dinding ke rumah bu Ida, apa yang
dikatakan bu Ida ? Apa situasi  atau  dialog seperti ini sering Anda jumpai
di negara   Anda ?   Pengajar  bisa   menerangkan  latar  belakang  budaya Indonesia.

B.    Siapkan
Set pernyataan untuk latihan 2.


C.    Mendengarkan rekaman bagian 4    


D.    Latihan
1.    Mendengar dan memperhatikan.
Pengajar     melakukan    sesuatu    yang    menimbulkan   respon mahasiswa. Misalnya   sengaja   menjatuhkan   bolpen   di depan mahasiswa. Waktu mahasiswa mau mengambil,pengajar berkata:
“Tidak usah diambilkan, biar saya ambil sendiri”.
Pengajar mau memberikan kertas kerja kepada mahasiswa.
Waktu mahasiswa mau berdiri, pengajar berkata :
“Tidak usah kemari, biar saya yang ke situ saja”.

2.    Kegiatan berkelompok.
Mencocokkan kalimat-kalimat di kolom A, B dan C.

3.    Berpasangan : berdialog
Situasi : Di toko kue.
Berilah respon memakai pola :”Tidak usah..……..biar..………”
Pegawai toko : Saya akan mengantar kue  ulangtahunnya  besok
                         ke rumah Anda.
Anda : …………………………………………………………dst

Situasi : Di rumah teman Anda.
Teman Anda : Ayo, saya antar ke rumah Anda. Hari ini saya ada
                        mobil.
Anda : ………………………………………………………...dst.


RANGKUMAN

  1. Mainkan peran antara Tanti dengan pacar barunya.
(A : Tanti ; B : pacar baru).

Situasi : Tanti seorang yang  senang  pesta  dan  minggu depan dia  akan  berulang
              tahun   yang   ke-21.   Dia  mau  mengadakan  pesta, tapi  minggu  ini dia
              sibuk, banyak  tugas  dan  projek  yang  harus  diselesaikan.  Ibunya  juga
              masih sakit. Anda sekarang menelepon pacar  baru  Anda mendiskusikan  
              rencana pesta minggu depan.  Anda memulai percakapan.



      2.   Mainkan peran antara Anda (orang Singapura) dan teman pena Anda di Indonesia.
            (A: Orang Singapura ; B : Orang Indonesia).
           
            Situasi : Anda mau berlibur ke Jogja selama 2 minggu. Di sana Anda akan tinggal
                          dengan  teman  pena  Anda. Diskusikanlah  dengan teman pena Anda itu,
                          barang-barang apa saja yang perlu dibawa.
 
            Pakai kata-kata / phrasa : ………….masih harus………….
                                         barangkali ada………….yang …………….
                                         tidak usah …………..biar ………………
                                                     sambil        
                                                     bawa
                                                     beli
                                                     antar

    
DAFTAR PUSTAKA

Asher,  James J. (1996).  Learning   Another   Language   Through   Actions.   Sky   Oaks Productions, Inc.

Asher, James J.  Brainswitching – Practical  Applications  of  the  right -  left  brain. Sky Oaks Productions, Inc.

Clark, Morag (1989). Language Through Living. Hodder and Stoughton.

Hendricks, Howard G.  (1988).   The   7   Laws   Of   The   Teacher.  Walk Thru the Bible Ministries, Inc.

Khoo, Adam (1999).  I   Am    Gifted   So  Are  You.  Oxford University Press.

Malouf, Doug (2000).  How  To  Teach  Adults  In  A  Fun And Exciting Way. Business & Professional Publishing.

Strong,  Michael  (1988).    Language   Learning   and   Deafness.   Cambridge   Applied Linguistics.

By : Marjam S. Budhisetiawan
The National University of Singapore

0 komentar