in

Jatim Potensi Tsunami, Warga Setempat Mendapatkan Edukasi Dini

Jatim Potensi Tsunami

Matadunia – Menurut hasil riset dari tim Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa di bagian selatan Pulau Jawa berpotensi gempa besar. Hal ini bisa memicu terjadinya gelombang Tsunami. Ada sembilan kabupaten/kota yang berpotensi tsunami di area Jawa Timur, ungkap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.

Ada 9 Kabupaten/Kota di Jatim Berpotensi Tsunami

9 kabupaten atau kota tersebut yang memiliki potensi untuk terjadi tsunami di antaranya adalah Trenggalek, Pacita, Blitar, Tulungagung, Lumajang, Jember, Malang, Banyuwangi. Dari 9 kabupaten/kota tersebut juga meliputi 156 desa yang berpotensi tinggi terjadinya bencana tsunami di Jawa Timur. Dikabarkan terdapat 46 desa di kabupaten Banyuwangi yang merupakan kabupaten dengan desa terbanyak berpotensi tsunami.

Kabarnya, pihak BPBD Jawa Timur sudah melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap warga setempat, khususnya pada warga desa yang berpotensi tinggi. Sejak bulan Juli 2019, BPBD Provinsi, kabupaten kota, pusat, hingga relawan sudah melakukan mitigasi terhadap warga desa yang berpotensi tsunami.

Jatim Potensi Tsunami

Terdapat sekitar 200 realawan dan pihak BPBD yang sudah melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat mengenai ancaman bencana di daerahnya. Tak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun juga mendapatkan edukasi dari mereka dengan berbagai nyanyian anak agar lebih mudah dipahami. Inti dari edukasi tersebut, ketika ada gempa, maka segera lindungi kepala, jauhi kaca, dan lari ke tempat terbuka.

Tak hanya melakukan edukasi dan sosialisasi, pihak pemerintah dan relawan pun juga memasang berbagai rambu-rambu peringatan di berbagai tempat yang terpicu terjadinya tsunami, khususnya di area wisata di wilayah Selatan Jawa Timur.
Upaya yang dilakukan mereka juga membuat banyak shelter dari alam dan buatan. Hal ini merupakan perintah dari Sekda Provinsi yang ingin segera direalisasikan.
Tentu Sekda Provinsi mengharpkan bahwa korban dari bencana alam ini dapat diminimalisir, baik dari segi materi juga dari segi korban jiwa.

Dengan adanya shelter alam maupun buatan, terutama di kawan wisata Selatan Jawa Timur, maka ada titik kumpul ketika terjadinya tsunami. Tentu shelter ini merupakan tempat yang sangat tinggi dan kuat. BPBPD juga memiliki rumus tentang terjadinya bencana tsunami, bahwa terdapat 20 detik terjadi gempa, 20 menit waktunya lari, dan berada di ketinggian minimal 20 meter. Kalau bisa warga setempat mencari tempat tinggi seperti bukit-bukit di area dekatnyaketika terjadinya gempa atau pun tsunami.

Dalam edukasi bencana, para relawan juga mengedukasi bukan hanya pada perlindungan diri, melainkan juga sikap mental warga ketika terjadinya bencana alam, khususnya gempa dan tsunami.

Pola pikir tersebut adalah pola pikir responsif yang diubah menjadi preventif. Dengan pola pikir preventif, maka warga setempat dapat melakukan perlindungan diri dan orang lain tanpa adanya rasa panik. Karena pada dasarnya, kepanikan hanya akan membuat warga takut dan tidak bisa bergerak bebas di kala bencana terjadi.

Pola preventif ini lebih menekankan pada penanganan diri dan orang lain. Jadi, yang lebih ditekankan sekarang adalah mindset preventif agar dapat meminimalisis korban bencana alam.

Sebenarnya, pola pikir preventif ini bukan hanya bisa diterapkan pada penanggulangan bencana alam saja, melainkan juga bisa membuat bertahan diri saat penyakit menyerang seseorang. Dengan menggunakan mindset preventif, maka seseorang bisa meminimalisir penyakitnya. Karena pada dasarnya, penyakit juga bisa berasal dari pikiran kita yang diakibatkan tekanan terlalu tinggi.

Harapan warga setempat, pemerintah memberikan upaya pola pikir preventif yang wajib diterapkan kepada warga-warga desa yang cenderung memiliki kepanikan tersendiri.

What do you think?

Written by matadunia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
bongkar kebiasaan cowok

Yuk Bongkar Isi Hati Cowok Sesungguhnya