Dalam dunia akademik dan industri, istilah ‘lintas disiplin’ seringkali diucapkan namun jarang benar-benar dipraktikkan. Di Universitas Pertamina (UPER), pendekatan itu bukan slogan—ia adalah cara kerja nyata yang dapat dibuktikan melalui kolaborasi para peneliti perempuannya dalam mendukung transisi energi Indonesia.
Transisi energi adalah tantangan yang terlalu besar dan terlalu kompleks untuk diselesaikan dari satu sudut pandang saja. Ia membutuhkan pengetahuan tentang perut bumi, kecakapan merekayasa material baru, kepiawaian mengelola limbah, keahlian membangun komunikasi publik yang efektif, dan kebijaksanaan mempertimbangkan dampak ekonomi secara menyeluruh. Itulah persis mengapa Universitas Pertamina membangun ekosistem riset yang memadukan semua dimensi tersebut.
Hulu ke Hilir: Peta Kolaborasi yang Terintegrasi
Bayangkan rantai nilai transisi energi sebagai sebuah jalur panjang—dari eksplorasi sumber daya di bawah tanah, proses produksi dan konversi energi, pengelolaan limbah dan dampak lingkungan, hingga distribusi manfaat ekonomi ke masyarakat luas. Enam peneliti perempuan UPER masing-masing menempati pos strategis di sepanjang jalur ini.
Di ujung hulu, Dr. Dumex Sutra Pasaribu menjaga fondasi geologi. Peta struktur bawah permukaan yang dihasilkan risetnya menjadi dokumen acuan kritis sebelum satu pun sumur injeksi karbon atau pembangkit panas bumi dibangun. Di lini produksi dan material, Dr. Nonni Soraya Sambudi bekerja di skala nano untuk menghadirkan material-material cerdas yang membuat proses produksi energi bersih lebih efisien dan emisi lebih rendah.
Bergerak ke pos pengelolaan limbah teknologi, Dr. Nila T. Berghuis memastikan bahwa baterai kendaraan listrik yang habis masa pakainya tidak menjadi bom waktu lingkungan. Material-material berharga yang dipulihkan dari baterai bekas bisa kembali memasok industri kendaraan listrik domestik, menciptakan siklus material yang menutup dirinya sendiri.
Sustainability sebagai Prinsip, Bukan Tren
Assoc. Prof. Dr. Mega Mutiara Sari membawa dimensi sustainability yang lebih luas. Sebagai peneliti di bidang rekayasa lingkungan, ia tidak hanya melihat limbah sebagai masalah teknis yang perlu ditangani—ia melihatnya sebagai sumber daya yang salah tempat. Teknologi Waste-to-Energy (WtE) yang dirisetnya berpotensi menjawab dua krisis sekaligus: krisis sampah perkotaan dan defisit energi di daerah-daerah terpencil.
Yang membuat pendekatan Dr. Mega berbeda adalah penekanannya pada dimensi sosial. Sebuah fasilitas WtE yang dibangun tanpa mempertimbangkan dampak terhadap komunitas sekitar bisa menimbulkan resistensi sosial yang menghambat operasionalnya. Dengan mengintegrasikan analisis dampak sosial sejak tahap perencanaan, Dr. Mega memastikan teknologi hijau benar-benar disambut sebagai solusi, bukan ancaman baru.
Ketika Laboratorium Bertemu Ruang Publik
Salah satu kegagalan umum dalam program transisi energi di berbagai negara adalah kesenjangan antara inovasi teknis dan penerimaan publik. Teknologi yang unggul secara teknis bisa gagal total di lapangan jika masyarakat tidak memahaminya, tidak mempercayainya, atau merasa tidak terlibat dalam prosesnya.
Dr. Farah Mulyasari dari Fakultas Komunikasi dan Diplomasi hadir mengisi celah kritis ini. Riset dan praktiknya pada strategi komunikasi publik untuk isu-isu energi dan lingkungan menjadi jembatan antara dunia ilmiah dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ia membantu menerjemahkan kompleksitas teknis menjadi narasi yang relevan, mudah dipahami, dan mendorong partisipasi aktif.
Ekonomi yang Berpihak pada Semua
Di pos terakhir rantai nilai ini, Dr. Eka Puspitawati memastikan bahwa kalkulasi keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari penurunan emisi karbon, tetapi juga dari indikator-indikator kesejahteraan ekonomi. Risetnya menelusuri hubungan antara kebijakan energi—seperti mandatori biodiesel B40 dan pengembangan industri nikel untuk baterai—dengan tingkat harga kebutuhan pokok, daya saing industri nasional, dan distribusi pendapatan.
Pertanyaan yang selalu ia ajukan adalah: siapa yang menanggung biaya transisi ini, dan siapa yang menikmati manfaatnya? Jika jawabannya tidak adil, maka transisi tersebut tidak berkelanjutan secara sosial-politik, tidak peduli seberapa canggih teknologinya.
UPER: Inkubator Perubahan Nyata
Pjs. Rektor UPER, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan bahwa kehadiran dan kontribusi keenam peneliti perempuan ini bukan kebetulan. Universitas Pertamina secara sadar membangun lingkungan akademik yang inklusif—di mana keunggulan riset, bukan latar belakang gender, yang menentukan siapa yang mendapat ruang dan dukungan.
Dalam konteks yang lebih luas, UPER memposisikan diri bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai mitra strategis dalam pembangunan energi nasional. Riset yang dihasilkan bukan untuk memenuhi angka publikasi semata, melainkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nyata yang dihadapi industri dan pembuat kebijakan.
Enam srikandi UPER adalah bukti paling nyata dari komitmen itu. Mereka tidak hanya melanjutkan warisan emansipasi Kartini—mereka memperluas maknanya, dari sekadar kesetaraan hak menjadi kesetaraan kontribusi dan tanggung jawab terhadap masa depan bumi yang kita tinggali bersama.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
